Viral Pasangan Nikah di KUA, Demi Investasi Masa Depan Cuma Gelar Syukuran
Gurihkepo.id – Sebuah kisah pernikahan sederhana namun penuh makna tengah viral di media sosial. Sepasang pengantin menjadi perbincangan publik setelah memutuskan menikah di Kantor Urusan Agama (KUA) tanpa menggelar resepsi besar. Alih-alih pesta mewah, mereka hanya mengadakan acara syukuran sederhana bersama keluarga dan sahabat terdekat.
Keputusan tersebut menarik perhatian warganet karena dana yang biasanya digunakan untuk resepsi justru dialihkan untuk investasi masa depan dan persiapan kehidupan rumah tangga.
Cerita ini menjadi bukti bahwa konsep pernikahan tidak selalu harus mewah. Bagi sebagian pasangan, makna kebersamaan dan perencanaan masa depan justru lebih penting dibandingkan kemegahan pesta satu malam.
Pernikahan Sederhana yang Viral di Media Sosial
Kisah pasangan ini menjadi viral setelah dibagikan melalui akun TikTok @rangandra. Dalam unggahan tersebut, terlihat suasana pernikahan yang hangat dan intim dengan konsep syukuran sederhana.
Video tersebut langsung menarik perhatian warganet dan ditonton ratusan ribu kali. Banyak pengguna media sosial merasa terinspirasi oleh konsep pernikahan yang dianggap lebih realistis dan bermakna.
Dalam keterangan videonya, pasangan tersebut menjelaskan bahwa mereka memang sejak awal tidak memiliki impian menggelar pesta pernikahan yang besar.
Sebaliknya, mereka ingin merayakan momen sakral tersebut dengan cara yang lebih personal dan dekat dengan keluarga.
Acara yang digelar pun terasa santai dan penuh kehangatan. Para tamu yang hadir sebagian besar merupakan keluarga inti dan sahabat dekat yang benar-benar mengenal pasangan tersebut.
Menikah di KUA untuk Menghemat Biaya
Pasangan tersebut diketahui bernama Ara Ayunugro (35) dan Rangga (37). Mereka sepakat sejak awal hubungan untuk menggelar akad nikah di KUA Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Keputusan tersebut bukan tanpa alasan. Menurut Ara, mereka ingin menghemat biaya pernikahan yang biasanya sangat besar jika harus mengadakan resepsi mewah.
Di Indonesia, pesta pernikahan sering kali membutuhkan biaya hingga ratusan juta rupiah, tergantung konsep, lokasi, dan jumlah tamu undangan.
Karena itulah Ara dan Rangga memilih konsep yang lebih sederhana agar tidak terbebani biaya besar di awal kehidupan rumah tangga mereka.
Selain lebih hemat, mereka juga ingin suasana pernikahan terasa lebih hangat dan kekeluargaan.
“Dari awal hubungan kami sudah sepakat kalau menikah hanya di KUA saja,” ungkap Ara saat menceritakan kisah mereka.
Mengganti Resepsi dengan Syukuran Intim
Setelah melangsungkan akad nikah di KUA, pasangan ini tidak menggelar resepsi seperti yang lazim dilakukan banyak pasangan.
Sebagai gantinya, mereka mengadakan acara syukuran sederhana yang hanya dihadiri oleh orang-orang terdekat.
Acara tersebut diselenggarakan pada 7 Februari 2026 di sebuah tempat di Jakarta Selatan. Meski sederhana, acara tersebut tetap dikemas dengan konsep yang unik dan personal.
Para tamu yang hadir mengenakan dresscode kebaya encim dan batik cerah. Selain itu, pasangan ini juga menyediakan berbagai aktivitas interaktif agar suasana acara tetap meriah.
Beberapa kegiatan yang disiapkan antara lain wedding scrapbook serta kuis interaktif yang dimainkan bersama para tamu.
Konsep ini membuat acara terasa lebih santai dan menyenangkan. Para tamu bisa berinteraksi langsung dengan pengantin tanpa harus mengikuti alur resepsi formal yang biasanya kaku.
Dana Resepsi Dialihkan untuk Investasi
Salah satu alasan utama pasangan ini memilih konsep pernikahan sederhana adalah untuk mengalokasikan dana ke hal yang lebih penting.
Dana yang biasanya digunakan untuk resepsi pernikahan mereka putuskan untuk dialihkan ke investasi jangka panjang.
Menurut Ara, keputusan tersebut diambil sebagai bentuk persiapan masa depan dan bekal kehidupan rumah tangga.
Selain investasi, sebagian dana juga digunakan untuk menikmati bulan madu yang lebih berkualitas.
Dengan cara ini, mereka merasa pernikahan tidak hanya menjadi perayaan sesaat, tetapi juga langkah awal untuk membangun kehidupan yang lebih stabil secara finansial.
Ara menyebut keputusan tersebut sebagai investasi bagi masa depan mereka, termasuk untuk persiapan masa pensiun di kemudian hari.
Dukungan dari Orang Tua
Menariknya, keputusan pasangan ini tidak mendapat penolakan dari keluarga. Kedua orang tua mereka justru memberikan dukungan penuh terhadap konsep pernikahan sederhana tersebut.
Menurut Ara, faktor usia menjadi salah satu alasan keluarga mendukung keputusan mereka.
Baik Ara maupun Rangga menikah ketika sudah berusia di atas 35 tahun. Pengalaman orang tua yang sebelumnya pernah menggelar pesta pernikahan besar untuk anak-anak lain juga membuat mereka memahami besarnya biaya yang harus dikeluarkan.
Karena itu, ketika pasangan ini menyampaikan rencana menikah di KUA tanpa resepsi besar, keluarga justru menyambutnya dengan positif.
Bagi mereka, yang terpenting adalah kebahagiaan pasangan tersebut dalam menjalani kehidupan rumah tangga.
Respons Warganet
Unggahan tentang pernikahan sederhana ini mendapat beragam tanggapan dari warganet.
Sebagian besar memberikan dukungan dan menganggap konsep tersebut sebagai langkah bijak, terutama bagi pasangan muda yang ingin memulai kehidupan rumah tangga tanpa beban finansial besar.
Banyak pengguna media sosial juga menyebut konsep tersebut lebih relevan dengan kondisi ekonomi saat ini.
Namun ada pula warganet yang mengingatkan bahwa acara syukuran sederhana tetap membutuhkan biaya, terutama jika tetap menyediakan makanan, dekorasi, dan dokumentasi acara.
Meski begitu, mayoritas komentar tetap memuji keputusan pasangan tersebut karena dianggap lebih realistis dan berorientasi pada masa depan.
Tren Pernikahan Intim yang Semakin Populer
Fenomena pernikahan sederhana seperti ini sebenarnya bukan hal baru. Dalam beberapa tahun terakhir, tren intimate wedding atau pernikahan intim semakin populer di kalangan generasi milenial dan Gen Z.
Banyak pasangan mulai mengutamakan kualitas momen dibandingkan kemewahan acara.
Alih-alih mengundang ratusan hingga ribuan tamu, mereka memilih merayakan pernikahan bersama orang-orang terdekat saja.
Selain lebih hemat biaya, konsep ini juga dianggap lebih bermakna karena memungkinkan pasangan berinteraksi langsung dengan para tamu.
Media sosial juga turut berperan dalam menyebarkan tren pernikahan sederhana ini.
Banyak pasangan yang berbagi pengalaman mereka secara online sehingga menginspirasi pasangan lain untuk merancang konsep pernikahan yang sesuai dengan kondisi dan prioritas mereka.
Pernikahan yang Lebih Realistis
Kisah Ara dan Rangga menunjukkan bahwa pernikahan tidak harus selalu identik dengan pesta mewah dan biaya besar.
Bagi mereka, yang paling penting adalah memulai kehidupan rumah tangga dengan perencanaan yang matang dan kondisi finansial yang sehat.
Dengan memilih menikah di KUA dan hanya mengadakan syukuran kecil, mereka mampu mengalokasikan dana untuk kebutuhan jangka panjang.
Konsep ini juga menjadi pengingat bahwa setiap pasangan memiliki cara berbeda dalam merayakan pernikahan mereka.
Pada akhirnya, makna pernikahan bukan terletak pada kemegahan acara, melainkan pada komitmen dua orang untuk membangun masa depan bersama.

