Aaliyah Massaid Trauma Thariq Main Bola Malam, Teringat Adjie Massaid
Gurihkepo.id – Aaliyah Massaid membagikan cerita pribadi mengenai rasa khawatir yang muncul setiap kali sang suami, Thariq Halilintar, bermain bola atau berolahraga pada malam hari. Perasaan tersebut ternyata berkaitan dengan pengalaman pahit yang dialaminya ketika masih kecil, yakni kehilangan sang ayah, Adjie Massaid.
Pengakuan Aaliyah disampaikan ketika menjadi bintang tamu dalam C8 Podcast yang dipandu Ivan Gunawan. Dalam perbincangan tersebut, Aaliyah mengungkap bahwa aktivitas olahraga malam yang dilakukan Thariq terkadang membuat dirinya merasa cemas, terutama ketika sang suami sulit dihubungi.
Menurut Aaliyah, kekhawatiran itu bukan sesuatu yang sengaja ia ciptakan. Ia baru menyadari bahwa pengalaman kehilangan ayahnya belasan tahun lalu ternyata masih meninggalkan pengaruh dalam dirinya hingga sekarang.
Aaliyah Massaid Mengaku Trauma
Aaliyah secara terbuka mengakui bahwa dirinya memiliki trauma ketika Thariq bermain bola pada malam hari. Kekhawatiran tersebut semakin terasa ketika komunikasi dengan sang suami terputus.
“Aku tuh agak trauma kalau misalkan suamiku tuh olahraga bola malam-malam,” ujar Aaliyah dalam perbincangan tersebut.
Ia kemudian menjelaskan bahwa ketika Thariq tidak bisa dihubungi, pikirannya langsung dipenuhi rasa khawatir. Untuk memastikan keadaan sang suami, Aaliyah terkadang memilih menghubungi sopir Thariq.
Bagi Aaliyah, situasi tersebut bukan sekadar kekhawatiran biasa. Ada pengalaman masa lalu yang membuat aktivitas olahraga malam memiliki makna emosional tersendiri.
Ia menyadari bahwa rasa takut tersebut berkaitan dengan kejadian yang dialami keluarganya ketika Adjie Massaid meninggal dunia secara mendadak pada 2011.
Kenangan Sang Ayah Masih Membekas
Adjie Massaid merupakan sosok penting dalam kehidupan Aaliyah. Kepergian sang ayah ketika dirinya masih berusia delapan tahun menjadi pengalaman yang sangat membekas.
Pada saat itu, Adjie diketahui bermain futsal. Setelah selesai beraktivitas, kondisinya kemudian memburuk dan ia meninggal dunia akibat serangan jantung pada usia 43 tahun.
Peristiwa tersebut membuat aktivitas olahraga malam menjadi sesuatu yang sensitif bagi Aaliyah. Ketika melihat Thariq melakukan kegiatan serupa, kenangan masa lalu seolah kembali muncul.
Aaliyah mengaku baru menyadari hubungan tersebut setelah berbicara mengenai rasa cemasnya. Ia menyebut perasaan tersebut ternyata terbawa hingga kehidupan rumah tangganya saat ini.
“Deg-degan aja sampai sekarang, ternyata itu terbawa tanpa aku sadari,” kata Aaliyah.
Pengakuan tersebut memperlihatkan bahwa pengalaman masa kecil dapat meninggalkan kesan mendalam, bahkan ketika seseorang telah beranjak dewasa dan menjalani kehidupan baru.
Cemas Ketika Thariq Sulit Dihubungi
Salah satu kondisi yang paling membuat Aaliyah merasa tidak tenang adalah ketika Thariq tidak dapat dihubungi saat sedang bermain bola.
Dalam situasi seperti itu, Aaliyah berusaha mencari kepastian dengan menanyakan kondisi sang suami kepada sopirnya.
Bagi Aaliyah, mengetahui bahwa Thariq berada dalam keadaan baik menjadi hal penting untuk meredakan rasa khawatir.
Namun, ia juga menyadari bahwa situasi Thariq berbeda dengan pengalaman yang dialaminya bersama sang ayah. Thariq biasanya bermain bola bersama teman-teman dan berada dalam lingkungan yang ramai.
Kondisi tersebut sedikit membuat Aaliyah lebih tenang.
“Dan untungnya kalau misalkan main bola ya rame, kenal sama temen-temennya juga,” tuturnya.
Dengan mengetahui bahwa Thariq tidak berolahraga seorang diri, Aaliyah merasa memiliki alasan untuk tidak terlalu mencemaskan kondisi suaminya.
Aaliyah Perhatikan Kondisi Fisik Thariq
Kekhawatiran Aaliyah tidak hanya muncul karena waktu olahraga yang dilakukan Thariq. Ia juga memperhatikan kondisi fisik sang suami sebelum beraktivitas.
Aaliyah mengatakan dirinya tidak menyarankan Thariq bermain bola apabila kondisi tubuhnya sedang kurang fit atau waktu istirahatnya belum mencukupi.
Menurutnya, kondisi kesehatan harus menjadi pertimbangan sebelum melakukan aktivitas fisik, terutama ketika tubuh belum mendapatkan waktu istirahat yang cukup.
“Parno, jadi kalau misalkan dia kayak belum tidur cukup, enggak usah,” ujar Aaliyah.
Sikap tersebut menunjukkan sisi perhatian Aaliyah sebagai seorang istri. Rasa khawatir yang muncul bukan hanya disebabkan oleh trauma masa lalu, tetapi juga karena keinginannya memastikan Thariq tetap berada dalam kondisi baik.
Pengalaman Masa Kecil yang Tidak Terlupakan
Aaliyah juga mengingat bahwa dirinya pernah menemani Adjie Massaid bermain bola ketika masih kecil.
Kenangan tersebut menjadi semakin kuat karena aktivitas yang dilakukan sang ayah sebelum meninggal memiliki kemiripan dengan kegiatan yang kini dilakukan suaminya.
Saat membicarakan masa lalu itu, Aaliyah mengingat dirinya pernah berada di sekitar lapangan bersama sang ayah.
“Inget, karena papaku main bola, nah itu yang nemenin aku,” ungkap Aaliyah.
Ia juga menceritakan bahwa pada malam kejadian tersebut dirinya sempat berada bersama sang ayah dan pamannya, Mudji Massaid.
Kenangan tersebut menjadi bagian dari pengalaman hidup yang tidak mudah dilupakan. Bertahun-tahun kemudian, situasi yang serupa dapat memunculkan kembali rasa khawatir yang selama ini mungkin tidak disadari.
Kepergian Adjie Massaid pada 2011
Adjie Massaid meninggal dunia pada 5 Februari 2011. Saat itu, ia masih dikenal sebagai aktor sekaligus anggota DPR RI dan memiliki keterlibatan dalam dunia sepak bola sebagai manajer Timnas U-23.
Sebelum meninggal, Adjie menjalani aktivitas olahraga futsal pada Jumat sore hingga malam.
Setelah selesai bermain, kondisi tubuhnya mengalami masalah. Ia dilaporkan sempat mengeluhkan sesak napas dan nyeri dada sebelum akhirnya kondisinya memburuk.
Adjie kemudian dibawa ke RSUP Fatmawati, Jakarta Selatan. Namun, nyawanya tidak tertolong dan ia meninggal dunia akibat serangan jantung.
Bagi keluarga, kejadian tersebut berlangsung sangat cepat. Bagi Aaliyah yang masih berusia delapan tahun, kehilangan itu tentu menjadi pengalaman besar yang membentuk ingatan masa kecilnya.
Tidak mengherankan jika aktivitas olahraga malam yang dilakukan orang terdekat kemudian dapat memunculkan rasa takut.
Thariq Tetap Bermain Bersama Teman-Teman
Meskipun merasa cemas, Aaliyah memahami bahwa Thariq memiliki lingkungan yang berbeda. Suaminya biasanya bermain bola bersama teman-teman, sehingga ada orang lain yang dapat mengetahui kondisi Thariq jika terjadi sesuatu.
Hal tersebut menjadi salah satu faktor yang membuat Aaliyah sedikit lebih tenang.
Meski demikian, ketika komunikasi dengan Thariq terputus, rasa khawatir tetap muncul secara spontan.
Situasi tersebut memperlihatkan bagaimana perhatian dalam hubungan rumah tangga dapat dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu. Apa yang bagi orang lain mungkin terlihat sebagai aktivitas olahraga biasa, bagi Aaliyah memiliki kenangan emosional tersendiri.
Bukan Melarang, tetapi Bentuk Kekhawatiran
Pengakuan Aaliyah mengenai trauma tersebut tidak serta-merta berarti ia melarang Thariq bermain bola.
Dari penjelasannya, perhatian utama Aaliyah adalah memastikan suaminya berada dalam kondisi sehat dan tidak memaksakan diri.
Ia terutama menyoroti pentingnya waktu istirahat. Jika Thariq belum tidur cukup, Aaliyah merasa lebih baik sang suami tidak melakukan aktivitas olahraga pada malam tersebut.
Sikap ini dapat dilihat sebagai bentuk kehati-hatian sekaligus perhatian dalam kehidupan rumah tangga mereka.
Aaliyah juga tampaknya berusaha memahami bahwa rasa takut yang muncul dalam dirinya merupakan bagian dari pengalaman masa lalu yang belum sepenuhnya hilang.
Trauma Lama Terbawa ke Kehidupan Sekarang
Cerita Aaliyah menjadi pengingat bahwa pengalaman kehilangan seseorang yang sangat dekat dapat meninggalkan dampak emosional dalam jangka panjang.
Dalam kasus Aaliyah, olahraga malam menjadi salah satu situasi yang mengingatkannya kepada sang ayah.
Ia sendiri mengaku baru menyadari bahwa rasa cemas tersebut ternyata terbawa tanpa disadari. Ketika Thariq tidak bisa dihubungi, muncul kekhawatiran mengenai keselamatan sang suami.
Namun, Aaliyah juga berusaha mengelola rasa cemas tersebut dengan mencari informasi dan memastikan kondisi Thariq.
Perhatian terhadap kondisi fisik suami juga menjadi bagian dari caranya memberikan rasa aman bagi dirinya sendiri.
Kisah Aaliyah dan Thariq Jadi Sorotan
Kehidupan rumah tangga Aaliyah Massaid dan Thariq Halilintar memang kerap mendapat perhatian publik. Namun, pengakuan mengenai trauma masa kecil ini memperlihatkan sisi lain dari kehidupan mereka yang lebih personal.
Aaliyah tidak hanya berbicara mengenai hubungan dengan Thariq, tetapi juga membuka kembali kenangan mengenai sosok ayah yang telah lama pergi.
Cerita tersebut sekaligus menunjukkan bahwa di balik kehidupan publik yang terlihat penuh aktivitas, setiap orang memiliki pengalaman pribadi yang dapat memengaruhi cara mereka menghadapi situasi tertentu.
Bagi Aaliyah, bermain bola pada malam hari bukan sekadar aktivitas olahraga. Ada kenangan tentang sang ayah yang membuatnya lebih waspada ketika Thariq melakukan kegiatan serupa.
Kesimpulan
Aaliyah Massaid mengaku masih merasa trauma setiap kali Thariq Halilintar bermain bola pada malam hari. Rasa cemas tersebut terutama muncul ketika sang suami sulit dihubungi.
Pengalaman tersebut ternyata berkaitan dengan kepergian ayahnya, Adjie Massaid, yang meninggal dunia secara mendadak setelah melakukan aktivitas futsal pada 2011.
Aaliyah menyadari bahwa pengalaman masa kecil itu ternyata masih terbawa hingga kehidupan rumah tangganya sekarang. Ketika Thariq bermain bola dan tidak dapat dihubungi, ia bisa merasa deg-degan dan memilih mencari kabar melalui sopir.
Meski demikian, Aaliyah merasa lebih tenang karena Thariq biasanya bermain bersama teman-temannya. Ia juga memperhatikan kondisi kesehatan sang suami dan tidak ingin Thariq memaksakan diri berolahraga ketika belum mendapatkan istirahat yang cukup.
Pengakuan tersebut memperlihatkan bagaimana kenangan kehilangan seseorang yang dicintai dapat membekas dalam waktu panjang. Di balik kekhawatiran Aaliyah terhadap Thariq, terdapat rasa sayang sekaligus pengalaman masa lalu yang membuatnya lebih berhati-hati.

